Tampilkan postingan dengan label tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tradisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 September 2017

UPACARA TRADISIONAL MOMUHUTO (SIRAMAN)


Dalam sekian banyak upacara adat, salah satu di an- taranya adalah pohutu (upacara negeri). Pohutu merupakan upacara resmi, resmi dalam pengertian bahwa pelaksanaan harus berdasarkan pada ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh adat itu sendiri. 

Salah satu puhutu yang masih dilaksanakan oleh masyarakat Gorontalo adalah upacara adat MOME’ATI (membe’at) yaitu perjanjian/ikrar, dengan inti pengucapan kalimat syahadat, melak- sanakan Rukun Islam, Rukun Iman secara utuh, sebagai seorang muslim perempuan yang mulai  timbul tanda kedewasaannya (Haid) atau dalam istilah Gorontalo disebut TADULAHU.

Sebelum sang gadis dibe’at, dilakukan upacara tradisional yang dikenal dengan istilah MOMUHUTO (siraman) dengan urutan kegiatan sebagai berikut:
  • Molungudu artinya mandi uapdengan ramuan tradis- ional tradisional yaitu suatu cara yang digunakan oleh para leluhur Goron- talo guna mengeluarkan keringat yang berbau dari tubuh seorang gadis;
  • Momonto,artinya mem- beri tanda suci (bonto) kepada sang gadis mulai dari dahi, tenggorokan, bahu, lengan, telapak tangan, dan kaki, kemu- dian diteruskan kepada keluarga;
  • Momuhuto, artinya sira- man air kembang kepada sang gadis yang diawali oleh kedua orang tua, di- lanjutkan oleh pemangku adat secara bergantian menyiramkan air wangi yang terisi pada 7 buah perian bambu kuning (talila hulawa) sambil dituja’I (sajak).
  • Mopohuta’a to pingge, artinya menginjakkan kaki di atas piring. Sang gadis dibimb- ing oleh bidan kampung (hulango) melintasi 7 buah piring yang harus diinjak dan piring tidak boleh pecah sebab kalau pecah kaki akan luka dan sampai ke tempat tujuan.
  • Motidi, sang gadis menari di depan pu’ade (pelami- nan). Tari yang dibawakan adalah tidi da’ayang gerakan-gerakannya men- gandung nasihat kepada sang gadis.
Kegiatan MOMONTO (pemberian tanda suci)

Menurut sejarah yang bersumber dari wulito (penuturan) bahwa ketika Raja Matolodula mengis- lamkan negeri ini, diadakan pesta rakyat selama 40 hari 40 malam. Babi hutan dan Babi biasa masih meru- pakan makanan masyarakat yang animus, sehingga raja Matolodula memerintah- kan pada rakyat agar pada pesta rakyat itu seluruh babi tanpa sisa disuruh potong dan darahnya ditampung pada DULANGA (tempang menampung air daribatang kayu). Pada saat penobatan itulah Raja Matolodula mengumumkan setiap orang yang akan mengucapkan selamat dan berjabatan tan- gan dengannya, maka Raja mencelupkan jari tengahnya pada darah babi itu dan menempelkan pada dahi setiap orang. Oleh karena tidak ada lagi babi yang diambil darahnya untuk acara pensucian diri ini, maka digantilah dengan darah balaung ayam yang sama merahnya dengan darah babi. Namun inipun tidak berlangsung lama karena darah ayam berakibat timbulnya kutil (bangalo), maka digantilah dengan AlawahuTilihi, yaitu campuran kunyit, kapur, dan air.

Makna pemberian tanda di dahi adalah pernyataan untuk tidak menyembah selain Allah, tanda di leher, bahagian bawah tenggorokan bermakna, tidak akan makan makanan yang haram. Tanda di bahu dan lekukan-lekukan tangan dan kaki, bermakna tidak akan berbuat perbuatan yang tercela (mazmunah)dan bagi orang serta keluarga merupakan pernyataan bertanggung jawab atas keselamatan anak sebagai amanah Allah.

Kegiatan MOMUHUTO (siraman air kembang)
  1. Taluhu YILONUWA atau air kembang yang terdiri atas 7 macam ramuan yang harum bermakna 7 macam sifat yang terpuji, yang diharapkan membalut kemulusan diri sang putri yaitu:
  • Molamahu to pi’ili artinya memiliki sifat yang terpuji (kepribadian yang anggun).
  • Molumboyoto to ayuwa, artinya memiliki keramahan dan kehalusan budi pekerti.
  • Mopiduduto to syare’ati, artinya memiliki kemantapan pada syareat Islam
  • Modu’oto to hilawo, artinya memiliki prinsip yang teguh
  • Molimomoto to akali, artinya memiliki pemikiran yang jernih
  • Moulintapo to karaja, artinya terampil dalam pekerjaan
  • Moponuwa to’u motomele, artinya memiliki kasih sayang pada rumah tangga.
  1. Bulewe (upik pinang), bermakna prinsip kehidupan manusia dan keberadaannya di dunia sebagai penyandang amanah Allah.
  2. Tujuh buah perian bambu kuning, bermakna untuk mendapatkan kemuliaan, perlu mensucikan diri dari dosa lahir yang dilakukan oleh 7 anggota badan yaitu:
  • Mulut yang biasa dusta atau ghibah
  • Mata yang biasa melihat yang haram
  • Telinga yang biasa mendengar cerita kosong
  • Hidung yang biasa menimbulkan rasa benci
  • Kaki yang biasa berjalan dan berbuat maksiat
  • Tangan yang biasa merusak
  • Kemaluan yang biasa bersyahwat atau berzina (termasuk perut yang biasa diisi dengan makanan yang haram).
  1. Uang logam yang terisi pada perian, perlambang harta yang halal.
  2. Telur ayam kampung 1 butir, bermakna awal kejadian manusia.
  3. Kukuran kelapa (dudangata) bermakna, terhindar dari kejahatan manusia.
 Kegiatan OPOHUTA’ATOPINGGE (menginjakkan kali di atas piring)
Tujuh buah piring bermakna 7 aspek pertahanan seorang gadis dalam kehidupannya.
  1. Piring pertama yang berisi tanah dan tumbuhan po’otoheto atau yang diistilahkan hutawawutilihula, bermakna kehidupan di bumi yang dilambangkan dengan tanah, perlu memperkuat pendirian, keimanan dan ketakwaan yang dilambangkan dengan tumbuhan po’otoheto;
  2. Piring kedua yang berisi buah jagung, bermakna sang putri wajib mempertahankan kesucian dan kehormatan dirinya, baik mulai dari remaja sampai berumah tangga, dilambangkan dengan buah jagunr yang terbalut dengan kulitnya dari pembentukan tongkol sampai buahnya tua dan kering;
  3. Piring ketiga yang berisi beras, bermakna kerendahan hati yang dilambangkan dengan buah padi, semakin berissi semakin merunduk. Demikian pula anak gadis semakin cantik semakin baik budi pekertinya;
  4. Piring keempat berisi TALA’A NGALA’A atau uang beragam nilainya, bermakna penghematan. Uang merupakan suatu kebutuhan yang dicarioleh manusia, jika dihematkan maka hasil dapat dinikmati oleh pemiliknya. Tetapi uang juga dapat membahayakan kehidupan seorang gadis karena memburu uang ia dapat memjual dirinya.
  5. Piring kelima berisi daun puring (polohungo), bermakna adat artinya seorang gadis harus memahami pantangan adat mulai dari remaja sampai berumah tangga, antara lain menghindari UMOBULILO (perbuatan yang janggal) dan perbuatan UMO’OLITO (perbuatan yang memalukan) diri sendiri dan keluarga.
  6. Piring keenam berisi BakohatiUmonu (ramuan lulur/bedak yang harum)bermakna, penataan diri mulai dari remaja sampai berumah tangga. Menata diri untuk kebersihan sendiri dan merias diri untuk suami bagi yang sudah berumah tangga.
  7. Piring ketujuh berisi bulewe (mayang pinang)bermakna,keharuman nama dan keluarga perlu dijaga baik semasih gadis maupun sudah berumah tangga.
Makna Acara :
  1. Acara adatMolungudu (mandi uap) bernilai pembersihan diri lahir dan batin
  2. Acara Momonto (pemberian tanda suci) bernilai pensucian diri lahir dan batin
  3. Acara Momuhuto(siraman air kembang) memiliki nilai pendidikan moral yang mengacu pada prinsip kehidupan pribadi sang anak
  4. Acara Mopohuta’a topingge (menginjakkan kaki di ats piring) memiliki nilai kehati-hatian dalam melangkah. 
  5.  Sumber :  http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsulut/2015/05/10/upacara-tradisional-momuhuto-siraman-pada-masyarakat-gorontalo/

Adati Mo Polihu Lo Limu


Sudah menjadi adat dan tradisi di Gorontalo bahwa anak perempuan yang menjelang usia 2 tahun akan menjalani prosesi adat Mo Polihu Lo Limu atau sering juga disebut Molubingo. 

Mo polihu Lo Limu berasal dari bahasa daerah gorontalo, yang artinya mandi air ramuan jeruk purut atau mandi lemon, sedangkan Molubingo artinya Mencubit. Inti dari prosesi ini sebenarnya adalah mengkhitan anak perempuan yang ‘dibalut’ oleh adat tradisi religius dan budaya masyarakat Gorontalo. Mengenai istilah mandi lemon memang diadopsi dari bagian prosesi ritual, dimana seorang anak perempuan menjalani prosesi mandi kembang yang bercampur lemon atau jeruk dengan tumbuhan harum lainnya dipangkuan ibu yang melahirkan. 

Menurut tetua adat Gorontalo yang disebut Baate, ritual mandi lemon adalah sejenis khitanan bagi wanita, sebagai bukti keislaman seorang wanita sehingga agenda sakral tersebut yang harus dilalui oleh anak perempuan pada usia balita. Dijelaskan pula bahwa melalui ritual ini dapat diramalkan tentang masalah jodoh dan karakter dari wanita itu sendiri saat dewasa melalui petunjuk bahan alam yang digunakan seperti pelepah pinang muda yang dibelah.

Acara ini dimulai dengan pembacaan doa syalawat, sambil di pakaikan tanda di dahi (di antara alis) dengan memakai ramuan alami khas gorontalo yang berwarna orange. Dalam istilah adat gorontalo di sebut bontho oleh Imam atau Tokoh Adat kepada anak perempuan yang akan di khitan beserta kedua orang tuanya. Yang menarik di sesi ini ada ramalan jodoh dan rezeki. Potongan jeruk purut, cengkeh, buah pala dibuang kedalam loyang yang berisi air, dan posisi masing – masing buah ini mempunyai makna ramalan.

Selanjutnya masuk proses khitan. Sebelumnya anak perempuan yang akan di khitan, disucikan terlebih dahulu dengan membasuhkan air wudlu. Acara khitannya dilakukan didalam kamar. Saat dikhitan, anak perempuan didudukkan diatas bantal dipangku orang tuanya, ditutup dengan kain putih Sebenarnya khitannya cuman kayak dicubit saja, yang dikeluarkan atau dibersihkan hanya berupa selaput tipis. Bukan khitan atau sunat yang mengeluarkan darah, atau dilukai sehingga luka dan membutuhkan penyembuhannya berhari – hari. Hanya ada seperti selaput tipis yang diambil dari klitorisnya.

Setelah itu dilanjutkan dengan mandi lemon. Untuk mandi ini ritualnya sangat unik. Anak yang di khitan duduk dikursi semacam singgasana dan di pangku oleh orang tua perempuan. Tempat duduknya dihias dengan dekorasi buah-buahan, seperti pisang, nenas yang masih lengkap dengan daunnya, pohon tebu, janur kuning, bunga puring dan yang utama ada mayang (dari pohon pinang) yang terurai.

Prosesi mandi lemon ini akan disiram dengan air wangi khas yang dicampur dengan daun / buah jeruk purut, daun pandan dan ramuan lainnya yang diisi di dalam bambu kuning. Selama mandi ini ada sesi tepuk mayang (mayang yang masih terbungkus pelepahnya). Konon katanya, pelepah mayang ini akan menunjukkan karakter dari si anak. Ketika pelepah mayang di tepuk berkali – kali bahkan di pukulkan dan tak mau pecah, itu pertanda sang anak wataknya keras. Kalau anaknya lemah lembut atau lembek, ditepuk perlahan pun pelepah mayang sudah terbelah. Jika mayangnya masih muda, harum, putih dan segar, itu pertanda baik bagi kehidupan, jodoh dan rezeki sang anak.

Terus pucuk mayangnya digosokkan ke sekujur tubuh dan acara mandi lemon ini diakhiri dengan memecahkan telur ayam kampung dikedua telapak tangan anak. Telur yang telah dipecahkan ini disalin dari tangan kanan ke tangan kiri secara bergantian. Tidak boleh lepas dari tangan ketika di pindah – pindahkan. Kalau kuning telurnya tidak pecah, itu artinya kelak si anak bisa menjaga kehormatannya. Setelah itu, kuning telurnya harus ditelan mentah – mentah.

Prosesi berikutnya, setelah mandi lemon anak yang di khitan didandanin pakai baju adat gorontalo. Selanjutnya akan dibimbing berjalan atau menginjak 7 (tujuh) piring yang berisi uang coin 500 perak yang ditaruh diatas setangkai daun puring didampingi orang tuanya. Ini dilakukan sebanyak 3 kali putaran, selanjutnya menginjak piring yang berisi tanah dan jenis – jenis rumput. Terakhir menginjak piring yang berisi jagung dan padi, trus biji jagung dan butir padi yang menempel ditelapak kaki sang anak akan dihitung. Konon banyaknya jagung / padi yang menempel di kaki itu menunjukkan rezeki anak kita kelak. Jagung dan padi yang menempel tadi di jadikan makan ayam dengan cara memberikannya langsung pada ayam dengan memakai telapak tangan.

Prosesi mo po lihu lo limu selesai, di lanjutkan dengan santap bersama keluarga dan para undangan. Adat ini hingga kini masih melekat di masyarakat daerah gorontalo yang sangat menjunjung tinggi falsafah Adat bersendikan Syara’, dan Syara’ Bersendikan kitabullah.
Prosesi Mo polihu Lo Limu prosesi mandi kembang yang bercampur lemon (jeruk) dengan tumbuhan harum lainnya dipangkuan ibu yang melahirkan
Prosesi Mo polihu Lo Limu
prosesi mandi kembang yang bercampur lemon (jeruk) dengan tumbuhan harum lainnya dipangkuan ibu yang melahirkan
Sesi tepuk mayang. Kalau mayangnya masih muda, harum, putih dan segar, pertanda baik bagi kehudipan, jodoh dan rezeki sang anak
Sesi tepuk mayang. Kalau mayangnya masih muda, harum, putih dan segar, pertanda baik bagi kehudipan, jodoh dan rezeki sang anak
Setelah mandi lemon anak yang di khitan didandanin pakai baju adat gorontalo, bili’u kecil
Setelah mandi lemon anak yang di khitan didandanin pakai baju adat gorontalo, bili’u kecil
Prosesi akhir mo polihu lo limu, berjalan atau menginjak piring yang telah diisi uang coin 500 perak yang ditaruh diatas setangkai daun puring
Prosesi akhir mo polihu lo limu, berjalan atau menginjak piring yang telah diisi uang coin 500 perak yang ditaruh diatas setangkai daun puring
Sumber : http://www.gorontalofamily.org/upacara-adat/adati-mo-polihu-lo-limu.html#

Upacara adat Pambeatan dari Gorontalo


Upacara adat tidak akan terlepas dari setiap individu dimanapun  berada. Upacara tersebut berbeda satu sama lain. Di Gorontalo misalnya, upacara “pambeatan” masih sangat kental dan masih sering  di lakukan . Hal ini dikarenakan , sudah menjadi tradisi seorang perempuan ketika memasuki masa remaja melakukan pembeatan atau perjanjian. 
Pembeatan juga dapat dilakukan menjelang akad nikah. Menurut Sumakno Katili (47 th) pembeatan wajib dilakukan bagi seorang gadis yang memasuki akil baligh. Upacara pembeatan ini terdiri dari beberapa prosesi, diantaranya:


Prosesi “Monopolihu lolimu”


  Sebelum melakukan upacara pembeatan diharapkan menjalani monopolihu lolimu atau mandi air ramuan jeruk purut atau lebih dikenal dengan mandi lemon. Prosesi  ini dipimpin oleh seorang dukun yang disebut hulango. Air ramuan yang digunakan untuk mandi tersebut terdiri dari bahan-bahan berbau wangi  seperti kencur (hupoko), diramu menjadi satu dengan wangi-wangian seperti parfum , tebu, daun tebu, dan mayang yang dicampur dalam sebuah wadah untuk dimandikan pada sigadis. 
Konon air mandi ini juga dipakai oleh gadis-gadis kerajaan, ibu-ibu tua untuk bahan kosmetik karena dipercaya dapat menjaga kecantikan wajah, ungkap  Bechar  Katili (34 th). Bahan-bahan yang digunakan seperti tebu, melambangkan manis, agar sigadis kelak terlihat manis oleh masyarakat. Daun tebu diibaratakan agar sigadis dapat mengayomi teman-teman, saudara dan keluarga. Mayang menandakan  watak yang dimilikinya.


Upacara adat tidak akan terlepas dari setiap individu dimanapun  berada. Upacara tersebut berbeda satu sama lain. Di Gorontalo misalnya, upacara “pambeatan” masih sangat kental dan masih sering  di lakukan . Hal ini dikarenakan , sudah menjadi tradisi seorang perempuan ketika memasuki masa remaja melakukan pembeatan atau perjanjian. Pembeatan juga dapat dilakukan menjelang akad nikah. Menurut Sumakno Katili (47 th) pembeatan wajib dilakukan bagi seorang gadis yang memasuki akil baligh. Upacara pembeatan ini terdiri dari beberapa prosesi, diantaranya:

Tepuk mayang
 
 Prosesi ini adalah prosesi yang dilakukan setelah mandi  air jeruk purut. Rosesi ini dilakukan untuk mengetahui watak gadis yang melakukan prosesi tersebuatu kali dan pecaht. Apabila mayang ditepuk sekali dan langsung pecag, berarti sigadis kelak akan menjadi   seorang yang lemah lembut, baik dan penuh kasih sayang. Terapi apabila mayang ditepuk berkali-kali dan sulit dipecahkan, berarti kelak sigadis berwatak keras.


Memecahkan telur
   
Setelah prosesi mandi air lemon dan tepuk mayang, selanjutnya adalah prosei memecahkan telur. Terkadang sebuah upacara adat memang terlihat unik bahkan terkesan aneh dan tidak masuk akal. Prosesi memecahkan telur ini dilakukan untuk melihat jodoh sigadis, ungkap  petrus kaitili,  konon dalam kuning telur ada terdapat beberapa tanda. Telur dipecahkan diatas telapak tangan sigadis yang sedang melangsungkan pembeatan ini. Jika ada satu mata pada kuning telur yang dipecahkan, maka diyakini  bahwa jodoh gadis tersebut masih jauh dan masih lama. Begitu pula, jika pada kuning telur yang dipecahkan terdapat dua mata, maka sebentar lagi ia akan mendapatkan jodoh. Jika dalam kuning telur terdapat tiga mata atau lebih, maka sudah sangat jelas bahwa jodoh gadis tersebut masih sangat lama datangnya.  Setelah prosesi ini selesai, selanjutnya sigadid dibawa ke kamar untguk dipakaikan baju adat.

Berjalan di atas piring
 
Prosesi selanjutnya  yaitu berjalan di atas  pring. Prosesi ini wajib dilakukan dan tidak boleh ketingglalan. Piring yang diinjak berisiskan uang koin, beras, padi gabah atau tanah.  Proses ini dilakukan sebanyak tiga kali ditengah-tengah ruangan , disaksikan orang banyak dan disertai dengan penyampaian sajak oleh pemangku adat. Menurut  Sumakno Katili (47 th) sajak yang disampaikan mengandung pesan dan nasihat untuk sigadis karena telah melewati masa kanak-kanak dan memasuki  alam remaja. Sama dengan sebelumnya, isi dalam piring tersebut juga bermakna.

  Berisikan beras atau jagung, artinya jika beras tersebut ketika diinjak sigadis banyak melekat dikaki berarti sigadis nantinya banyak rezeki. Setelah itu, isi piring dibuang ke kamar dan yang lainnya dibuang ke halaman rumah. 
Setelah prosesi-prosesi tersebut dilangsungkan maka semua sanak saudara dan keluarga memanjatkan doa agar apa yang diharapakan terkabul.

Acara puncak adalah pembeatan tersebut. Pembeatan sering dilakukan pada malam hari. Hal ini bertujuan untuk menambah hikmat dan agar janji didengar orang dan untuk menjadikan kontrol, apakah janji tersebut ditepati atau bahkan dilanggar sigadis.  Janji yang diikrarkan dituntun ulama dan berasal dari al-quran. Janji tersebut ialah ketika remaja nanti  tidak akan bersikap kasar pada siapapun, mematuhi perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.
Acara terakhir adalah ramah tamah atau makan malam bersama dan berfoto bersama keluarga, teman dan tamu yang hadir.

Sumber :  http://expresitopia.blogspot.co.id/2012/01/upacara-adat-pambeatan-dari-gorontalo.html


========== Forexmart

Upacara Molonthalo pada Masyarakat Gorontalo


Sebagian besar masyarakat di Indonesia mempercayai bahwa kehidupan manusia selalu diiringi dengan masa-masa kritis, yaitu suatu masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya (Koentjaraningrat, 1985; Keesing, 1992). Masa-masa itu adalah peralihan dari tingkat kehidupan yang satu ke tingkat kehidupan lainnya (dari manusia masih berupa janin sampai meninggal dunia). Oleh karena masa-masa tersebut dianggap sebagai masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya, maka diperlukan adanya suatu usaha untuk “menetralkannya”, sehingga dapat dilalui dengan selamat. Usaha tersebut diwujudkan dalam bentuk upacara yang kemudian dikenal sebagai upacara lingkaran hidup individu yang meliputi: kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian. Tulisan ini terfokus pada upacara masa kehamilan yang disebut sebagai molonthalo atau raba puru pada masyarakat Gorontalo di Pulau Sulawesi.

Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Telibat dalam Upacara
Penyelenggaraan upacara molonthalo atau tondhalo (bahasa Gorontalo) atau raba puru (bahasa Manado) diadakan ketika usia kandungan seseorang telah mencapai tujuh bulan. Tujuan dari diadakannya upacara ini adalah sebagai pernyataan dari pihak keluarga suami bahwa kehamilan pertama adalah harapan yang terpenuhi akan kelanjutan keturunan dari perkawinan yang sah. Selain itu juga sebagai pernyataan atau maklumat kepada pihak keluarga suami bahwa sang isteri benar-benar suci ketika belum menikah. Sebagai catatan, upacara masa kehamilan yang disebut sebagai molonthalo ini diadakan hanya pada saat seorang perempuan mengalami masa kehamilan untuk yang pertama kalinya.

Pemimpin dalam upacara molonthalo adalah seorang dukun bayi atau bidan kampung yang biasa disebut Hulango yang beragama Islam, mengetahui seluk beluk umur kandungan, mengetahui urut-urutan upacara molonthalo, hafal bacaan-bacaan dalam upacara, dan telah diakui oleh masyarakat setempat.

Adapun pihak-pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan upacara adalah: (1) para kerabat dari pihak suami; (2) imam kampung atau Hatibi; (3) dua orang anak (laki dan perempuan) berusia 7-9 tahun yang masih memiliki orang tua (payu lo hulonthalo); (4) tiga orang ibu yang dianggap dari keluarga sakinah; dan (5) warga masyarakat lainnya yang membantu menyiapkan perlengkapan upacara maupun menyaksikan jalannya upacara.

Peralatan Upacara
Peralatan dan perlengkapan yang perlu dipersiapkan dalam upacara molonthalo adalah: (1) hulante yang berbentuk seperangkat bahan diatas baki, terdiri dari beras secupak (3 liter), 7 buah pala, 7 buah cengkeh, 7 buah limututu (lemon sowanggi), 7 buah mata uang yang bernilai Rp.100,00; (2) peralatan pembakaran dupa, terdiri dari: tetabu (dupa), 1 buah polutube (pedupaan), baskom tempat tetabu, dan segelas air masak; (3) botu pongi’ila atau batu gosok. Botu pongi’ila nantinya akan digunakan untuk mengikis kunyit. yang dicampur sedikit kapur dan air dingin; (4) toyopo (wadah dari daun kelapa muda) yang di dalamnya berisi nasi kuning, telur rebus, ayam goreng, lutu tahulumito (pisang raja) atau lutu lo hulonti’o (pisang gapi) dan kuih-muih (wapili, kolombengi, apangi); (5) pomama (tempat sirih pinang), tambaluda atau hukede; (6) sebuah baki yang di dalamnya terdiri dari sepiring bilinti (sejenis nasi goreng yang dicampur dengan hati ayam), dua buah baskom tempat cuci tangan, dua buah sendok makan, dan ayam goreng yang di dalam perutnya dimasukkan sebutir telur rebus; (7) tiladu tula-tula pidu (daun silar berkeping tiga) yang lebarnya seukuran perut sang ibu yang hamil; (8) bulewe atau upik pinang (malo ngo’alo); (9) buawu huli (tempurung kelapa yang tidak bermata); (10) pale yilulo yaitu beras yang diberi warna merah, kuning, hijau, hitam, dan putih; (11) sebuah tikar putih (amongo peya-peya atau ti’oho) yang terbungkus (bolu-bolu). Tikar ini nantinya akan difungsikan sebagai tirai untuk menutupi pintu (pode-podehu). Di balik tirai akan duduk seorang ibu yang meneruskan pertanyaan dari syara’ (hatibi atau syarada’a atau imam yang bertugas membacakan doa) pada Hulango (bidan kampung atau dukun bayi); dan (12) sebilah keris beserta warangkanya.

Jalannya Upacara
Ketika masa kehamilannya telah mencapai tujuh bulan, maka keluarganya akan menghubungi Hulango untuk memberitahukan dan sekaligus memintanya menjadi pemimpin upacara molonthalo. Selain itu, pihak keluarga juga menyampaikan undangan kepada para kerabat dan tetangga terdekat untuk ikut menghadiri upacara.

Pada hari yang telah ditentukan dan semua peserta upacara telah berkumpul di rumah perempuan yang diupacarakan, maka upacara pun dilaksanakan. Upacara diawali dengan pemberian tanda dengan alawahu tilihi oleh hulango pada dahi, leher, bahu, lekukan tangan, bagian atas telapak kaki, dan bawah lutut perempuan yang diupacarakan. Tujuannya adalah sebagai ungkapan bahwa sang calon ibu tersebut akan meninggalkan sifat-sifat mazmunah-nya (tercela) ketika membesarkan dan mendidik anaknya nanti.

Selanjutnya, ia dibaringkan di atas sebuah tikar putih dengan kepala menghadap ke arah timur dan kaki ke barat. Pada bagian kepala diletakkan sebuah bantal yang selalu dipegangi oleh seorang ibu. Sedangkan bagian kaki juga dijaga oleh seorang ibu lainnya sambil memegang lututnya agar posisinya terlipat ke atas.

Selain dua orang ibu yang menjaga bagian kepala dan kaki, terdapat juga dua orang anak (laki dan perempuan) berusia 7-9 tahun yang masih memiliki orang tua (payu lo hulontalo). Mereka duduk di sebelah kiri dan kanan sambil meletakkan tangan tepat di atas ikat pinggang janur berkepala tiga yang dikenakan si perempuan hamil. Sebagai catatan, selain ikat pinggang janur berkepala tiga, si perempuan hamil juga memakai busana khusus, yaitu waliomomo dengan konde memakai sunti yang terdiri dari 1 hingga 7 buah tangkai, bergantung dari status sosialnya dalam masyarakat. 1 tangkai untuk golongan orang kebanyakan, 3 tangkai untuk golongan isteri wuleya lo lipu (camat), 5 tangkai untuk isteri jogugu/wakil bupati/wakil walikota, dan 7 tangkai untuk Mbui, isteri raja/bupati/walikota.

Usai dibaringkan, syara’ atau imam kampung atau hatibi menanyakan pada ibu yang memegang talante bula (tikar terbungkus kain yang digunakan sebagai tirai penutup pintu kamar), dengan perkataan “Ma mongola hula?” yang artinya “Sudah berapa bulan?”. Pertanyaan ini segera diteruskan pada hulango yang segera menjawabnya dengan kalimat “Oyinta oluwo”. Jawaban hulango diteruskan lagi oleh ibu penjaga tirai pada syara’ dengan suara yang agak keras. Hal ini berlangsung sebanyak tiga kali.

Setelah acara tanya-jawab selesai, sang suami segera masuk ke dalam kamar isterinya lalu melangkahi perutnya sebanyak tiga kali. Selesai melangkahi perut isterinya, sang suami lalu menghunus keris untuk memotong anyaman silar yang telah disediakan. Potongan anyaman silar tersebut lalu dibawanya keluar mengelilingi rumah sebanyak satu kali, kemudian dibuang agak jauh dari rumah. Tujuan dari kegiatan ini adalah agar sang bayi lahir dengan selamat dan setelah dewasa akan memegang teguh adat, syara’, dan baala sebagai pedoman hidupnya dalam bermasyarakat.

Setelah itu sang suami kembali masuk ke rumah dan duduk berhadapan dengan isterinya untuk acara saling menyuapi dengan seperangkat makanan dalam baki yang terdiri dari nasi bilinthi dan ayam goreng. Sebelum acara saling menyuapi berlangsung yang juga sebagai lambang kasih sayang serta adanya hak dan kewajiban dari siami-isteri, terlebih dahulu sang suami akan mengeluarkan telur yang telah dimasukkan dalam perut ayam goreng. Telur yang keluar dari tubuh ayam goreng tersebut bermakna agar sang isteri diberi kemudahan ketika melahirkan bayinya.

Selesai prosesi saling menyuapi, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa dan shalawat yang dipimpin oleh hatibi. Kemudian, sang suami dan isterinya akan dimandikan oleh hulango dengan air yang telah dicampur dengan berbagai macam bunga dan ramuan.

Acara lalu diakhiri dengan makan bersama diantara peserta upacara dengan hidangan berupa kue tradisional khas Gorontalo. Dan sebelum para peserta upacara pulang, sang suami memberikan pala’u (sedekah sesuai keikhlasan hati) kepada hulango, hatibi, tiga orang ibu (penjaga kepala, kaki dan tirai), serta dua orang anak yang ikut menjaga perempuan yang sedang diupacarakan. Dengan berakhirnya tahap pemberian pala’u ini, berakhirlah seluruh rentetan upacara molonthalo.

Nilai Budaya
Ada beberapa nilai yang terkandung dalam upacara molonthalo. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, keselamatan, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian sanak kerabat untuk berdoa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, membantu pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa peralihan kehidupan seorang individu dari satu masa ke masa yang lain penuh dengan ancaman (bahaya) dan tantangan. Untuk mengatasi krisis dalam daur kehidupan seorang manusia itu, maka perlu diadakan suatu upacara. Molonthalo merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk mencari keselamatan pada tahap peralihan dari masa di dalam kandungan menuju ke kehidupan di dunia.

Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang dipimpin oleh hatibi atau ulama setempat, pada acara kenduri yang merupakan salah satu bagian dari serentetan tahapan dalam upacara molonthalo. Tujuannya adalah agar sang bayi beserta ibunya mendapatkan perlindungan dari Tuhan. (ali gufron)

Sumber:
Keesing, Roger. 1992. Antropologi Budaya Edisi ke dua. Jakarta: Erlangga.
Koentjaraningrat. 1985. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat.
http://hulondhalo.com/2009/08/upacara-adat-molonthalo/
http://artnculture.ilmci.com/tag/molonthalo
http://mycityblogging.com/gorontalo/2008/08/29/upacara-adat-molonthalo/

Rangkaian Budaya Gorontalo



Upacara perkawinan adat gotontalo berlangsung di dua tempat yaitu di tempat mempelai pria dan wanita, masing masing keluarga mempelai mengadakan pesta dirumah masing-masing. Dalam pesta tersebut selalu berlangsung meriah hingga berhari hari lamanya.

Beberapa hari sebelum pesta dilangsungkan semua keluarga dan kerabat telah datang berkumpul untuk membantu pelaksanaan pesta tersebut, baik ibu-ibu maupun bapak bapak selalu datang beramai- ramai.
Dalam pesta itu mempelai pria dan wanita menggunakan pakaian adat Bili’u dengan tempat pelaminan yang juga dihias menggunakan adat Gorontalo. Pesta yang berlangsung biasanya 3 hari itu dengan masing masing mempunyai sebutan setiap hari yang berbeda.
Pernikahan Adat Gorontalo ini perlu di lestarikan, karena mengandung nilai–nilai budaya yang tinggi. Adat Gorontalo ini semakin hari semakin terkontaminasi dengan perubahan zaman. Terlihat dimana–mana pernikahan di Gorontalo tanpa melewati lagi prosesi adat gorontalo. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya, banyak pemuda zaman sekarang yang enggan mempelajari adat pernikahan gorontalo. Sehingga warisan leluhur ini semakin terlupakan, karena tidak adanya regenerasi penerus Adati lo Hulondhalo.

Pernikahan Adat Gorontalo memiliki ciri khas tersendiri. Karena penduduk Provinsi Gorontalo memiliki penduduk yang hampir seluruhnya memeluk agama Islam, sudah tentu adat istiadatnya sangat menjunjung tinggi kaidah-kaidah Islam. Untuk itu ada semboyan yang selalu dipegang oleh masyarakat Gorontalo yaitu, “Adati hula hula Sareati, Sareati hula hula to Kitabullah” yang artinya, Adat Bersendikan Syara, Syara Bersendikan Kitabullah. Pengaruh Islam menjadi hukum tidak tertulis di Gorontalo sehingga mengatur segala kehidupan masyarakatnya dengan bersendikan Islam. Termasuk adat pernikahan di Gorontalo yang sangat bernuansa Islami. Prosesi pernikahan dilaksanakan menurut Upacara adat yang sesuai tahapan atau Lenggota Lo Nikah
Tahapan Upacara Pernikahan Adat Gorontalo
Berikut akan diuraiakan tahapan pernikahan adat gorontalo sesuai dengan Lenggota Lo Nikah atau tata urutan adat pernikahan daerah Gorontalo.
 
Mopoloduwo Rahasia
Mopoloduwo rahasia yaitu dimana orang tua dari pria mendatangi kediaman orang tua sang wanita untuk memperoleh restu pernikahan anak mereka. Apabila keduanya menyetujui, maka ditentukan waktu untuk melangsungkan peminangan atau Tolobalango.
 
Tolobalango
Tolobalango adalah peminangan secara resmi yang dihadiri oleh pemangku adat Pembesar Negeri dan keluarga melalui juru bicara pihak keluarga pria atau Lundthu Dulango Layio dan juru bicara utusan keluarga wanita atau Lundthu Dulango Walato, Penyampaian maksud peminangan dilantunkan melalui pantun-pantun yang indah. Dalam Peminangan Adat Gorontalo tidak menyebutkan biaya pernikahan (Tonelo) oleh pihak utusan keluarga calon pengantin pria, namun yang terpenting mengungkapkan Mahar atau Maharu dan penyampaian acara yang akan dilaksanakan selanjutnya.
 
Depito Dutu
Pada waktu yang telah disepakati dalam acara Tolobalango maka prosesi selanjutnya adalah mengantar harta atau antar mahar, didaerah gorontalo disebut Depito Dutu yang terdiri dari 1 paket mahar, sebuah paket lengkap kosmetik tradisional Gorontalo dan kosmetik modern, ditambah seperangkat busana pengantin wanita, serta bermacam buah-buahan dan bumbu dapur atau dilonggato.
Semua mahar ini dimuat dalam sebuah kendaraan yang didekorasi menyerupai perahu yang disebut Kola–Kola. Arak-arakan hantaran ini dibawa dari rumah Yiladiya (kediaman/ rumah raja) calon pengantin pria menuju rumah Yiladiya pengantin wanita diringi dengan gendering adat dan kelompok Tinilo diiringi tabuhan rebana melantunkan lagu tradisional Gorontalo yang sudah turun temurun, yang berisi sanjungan, himbauan dan doa keselamatan dalam hidup berumah tangga dunia dan akhirat.
Mopotilandahu
Pada malam sehari sebelum Akad Nikah digelar serangkaian acara malam pertunangan atau Mopotilandahu. Acara ini diawali dengan Khatam Qur’an, proses in bermakna bahwa calon mempelai wanita telah menamatkan atau menyelesaikan mengajinya dengan membaca ‘Wadhuha’ sampai Surat Lahab. Dilanjutkan dengan Molapi Saronde yaitu tarian yang dibawakan oleh calon mempelai pria dan ayah atau wali laki-laki. Tarian ini menggunakan sehelai selendang. Ayah dan calon mempelai pria secara bergantian menarikannya, sedangkan sang calon mempelai wanita memperhatikan dari kejauhan atau dari kamar.
 
Bagi calon mempelai pria ini merupakan sarana menengok atau mengintip calon istrinya, istilah daerah Gorontalo di sebut Molile Huali. Dengan tarian ini calon mempelai pria mecuri-curi pandang untuk melihat calonnya. Saronde dimulai dengan ditandai pemukulan rebana diiringi dengan lagu Tulunani yang disusun syair-syairnya dalam bahasa Arab yang juga merupakan lantunan doa-doa untuk keselamatan.
 
Lalu sang calon mempelai wanita ditemani pendamping menampilkan tarian tradisional Tidi Daa atau Tidi Loilodiya. Tarian ini menggambarkan keberanian dan keyakinan menghadapi badai yang akan terjadi kelak bila berumah tangga. Usai menarikan Tarian Tidi, calon mempelai wanita duduk kembali ke pelaminan dan calon mempelai pria dan rombongan pemangku adat beserta keluarga kembali ke rumahnya.
 
Tari Saronde
TARI Saronde adalah tari pergaulan keakraban dalam acara pertunangan. Tarian ini dilakukan di halaman calon mempelai wanita. Tentu penarinya adalah calon mempelai laki-laki bersama orang tua atau walinya. Ini adalah cara orang Gorontalo menjenguk atau mengintip calon pasangan hidupnya.
Dalam bahasa Gorontalo, tarian ini adalah sarana molihe huali yang berarti menengok atau mengintip calon istri. Setelah melalui serangkaian prosesi adat, calon mempelai pria kemudian mulai menari Saronde bersama ayah atau wali. Mereka menari dengan selendang.
Sementara calon mempelai wanita berada di dalam kamar dan memperhatikan pujaan hatinya dari dalam. Menampakkan sedikit dirinya agar calon mempelai pria tahu bahwa ia mendapat perhatian. Sesekali dalam tariannya ia berusaha mencuri pandang ke arah calon mempelai wanita.
Tari Saronde dipengaruhi secara kuat oleh agama Islam. Tarian ini dimulai dengan pemukulan rebana, alat musik pukul berbentuk bundar. Lirik lagu adalah syair-syair pujian terhadap Tuhan dan doa memohon keselamatan dalam bahasa Arab.
Akad Nikah
Keesokan harinya Pemangku Adat melaksanakan Akad Nikah, sebagai acara puncak dimana kedua mempelai akan disatukan dalan ikatan pernikahan yang sah menurut Syariat Islam. Dengan cara setengah berjongkok mempelai pria dan penghulu mengikrarkan Ijab Kabul dan mas kawin yang telah disepakati kedua belah pihak keluarga. Acara ini selanjutnya ditutup dengan doa sebagai tanda syukur atas kelancaran acara penikahan ini.
 
Pakaian Adat Gorontalo
Gorontalo memiliki pakaian khas daerah sendiri baik untuk upacara perkawinan, khitanan, baiat (pembeatan wanita), penyambutan tamu, maupun yang lainnya. Untuk upacara perkawinan, pakaian daerah khas Gorontalo disebut Bili’u atau Paluawala. Pakaian adat ini umumnya dikenal terdiri atas tiga warna, yaitu ungu, kuning keemasan, dan hijau.

Nuansa Warna Bagi Masyarakat Gorontalo
Dalam adat istiadat gorontalo , setiap warna memiliki makna atau lambang tertentu, karena itu dalam upacara pernikahan masyarakat gorontalo hanya menggunakan empat warna utama , yaitu merah ,hijau , kuning emas , dan ungu. Warna merah dalam masyarakat gorontalo bermakna keberanian dan tanggung jawab , hijau bermakna Kesuburan, kesehjateraan , kedamaian dan kerukunan, kuning emas bermakna kemulian, kesetiaan ,kesabaran dan kejujuran sedangkan warna ungu bermakna keanggunan dan kewibawaan.
 
Pada umumnya masyarakat Gorontalo enggan memakai pakai warna coklat karena coklat melambangkan tanah , karena itu bila mereka ingin memakai pakaian warna gelap, maka mereka akan memilih warna hitam yang bermakna keteguhan dan Ketuhanan Yang Maha Esa , warna putih bermakna kesucian dan kedudukan , karena itu masyarakat gorontalo lebih suka mengenakkan warna putih bila pergi ke tempat perkebungan atau kedukaan atau tempat ibadah (masjid), biru muda sering digunakan pada saat peringatan 40 hari duka,sedangkan biru tua digunakan pada peringatan 100 hari duka.
 
Dalam adat perkawinan Gorontalo sebelum hari H dilaksanakan dutu, dimana kerabat pengantin pria akan mengantarkan harta dengan membawakan buah-buahan , seperti jeruk , nangka ,nenas , tebu , setiap buah yang dibawah juga punya makna tersendiri misalnya buah jeruk berkmakna bahwa pengantin harus merendahkan diri, duri jeruk bermkana bahwa pengantin harus menjaga diri dan rasanya yang manis bermakna bahwa pengantin harus menjaga tata krama atau sifat manis yang disukai orang .nenas durinya juga bermakna bahwa pengantin harus menjaga diri dan begitu juga rasanya yang manis.nangka dalam bahasa gorontalo langge loo olooto , yang berbau harum dan berwarna kuning emas yang bermakna pengantin harus mempunyai sifat penyayang dan penebar keharuman. Tebu warna kuning bermakna pengantin harus menjadi orang yang disukai dan teguh dalam pendirian.
 
Kesenian Daerah
Gorontalo sebagai salah satu suku yang ada di Pulau Sulawesi memiliki aneka ragam kesenian daerah, baik tari, lagu, rumah adat, dan pakaian adat.
2.3.1 Tarian
Tarian yang cukup terkenal di daerah ini antara lain, Tari Bunga, Tari Polopalo, Tari Danadana, Zamrah, dan Tari Langga.
2.3.2 Lagu-lagu daerah Gorontalo
Lagu-lagu daerah Gorontalo yang cukup dikenal oleh masyarakat Gorontalo adalah Hulandalo Lipuu (Gorontalo Tempat Kelahiranku), Ambikoko (nama orang), Mayiledungga (Telah Tiba), Mokarawo (Membuat Kerawang), Tobulalo Lo Limuto (Di Danau Limboto), dan Binde Biluhuta (Sup Jagung).
2.3.3 Rumah Adat
Seperti halnya daerah lain di Indonesia, orang Gorontalo memiliki rumah adatnya sendiri, yang disebut Bandayo Poboide. Rumah adat ini terletak di tepat di depan Kantor Bupati Gorontalo, Jalan Jenderal Sudirman, Limboto. Selain itu, masyarakat Gorontalo juga memiliki rumah adat yang lain, yang disebut Dulohupa, yang terletak di di Kelurahan Limba U2, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Rumah adat ini digunakan sebagai tempat bermusyawarat kerabat kerajaan pada masa lampau.
Dulohupa merupakan rumah panggung yang terbuat dari papan, dengan bentuk atap khas daerah Gorontalo. Pada bagian belakang ada ajungan tempat para raja dan kerabat istana untuk beristirahat atau bersantai sambil melihat kegiatan remaja istana bermain sepak raga
Rumah adat dengan seluas tanah kurang lebih lima ratus ini dilengkapi dengan taman bunga , serta bangunan tempat penjualan sovenir, dan ada sebuah bangunan garasi bendi kerajaan yang bernama Talanggeda.
Pada masa pemerintahan para raja, rumah adat ini digunakan sebagai ruang pengadilan kerajaan, untuk memvonis para pengkhianat negara melalui sidang tiga alur pejabat pemerintahan, yaitu Buwatulo Bala (Alur Pertahanan / Keamanan), Buwatulo Syara (Alur Hukum Agama Islam), dan Buwatulo Adati (Alur Hukum Adat).
Bahasa Daerah
Orang Gorontalo menggunakan bahasa Gorontalo, yang terbagi atas tiga dialek, dialek Gorontalo, dialek Bolango, dan dialek Suwawa. Saat ini yang paling dominan adalah dialek Gorontalo.Penarikan garis keturunan yang berlaku di masyarakat Gorontalo adalah bilateral, garis ayah dan ibu. Seorang anak tidak boleh bergurau dengan ayahnya melainkan harus berlaku taat dan sopan. Sifat hubungan tersebut berlaku juga terhadap saudara laki-laki ayah dan ibu.
Menurut masyarakat Gorontalo, nenek moyang mereka bernama Hulontalangi, artinya ‘pengembara yang turun dari langit’. Tokoh ini berdiam di Gunung Tilongkabila. Dia menikah dengan pendatang yang singgah dengan perahu ke tempat itu. Mereka inilah yang kemudian menurunkan orang Gorontalo. Sebutan Hulontalangi kemudian berubah menjadi Hulontalo dan akhirnya menjadi Gorontalo.
Tujuh bulanan atau dalam bahasa Gorontalo Tondhalo
Tondhalo ini dilaksanakan pada usia kandungan 7 bulan, dilaksanakan pada pagi hari dan pesta yang meriah dan tentu sangat berbeda dengan upacara tujuh bulan pada umumnya. Baik si ibu jabang bayi maupun suami sama sama menggunakan pakaian adat dan menyertakan seorang anak perempuan kecil yang diusung oleh sang suami berkeliling rumah sebelum masuk kekamar menjumpai si ibu jabang bayi untuk memutus tali yang melingkar di perut yang terbuat dari daun kelapa.
Dalam upacara ini disediakan berbagai jenis makanan yang dihidangkan diatas 7 buah baki, kemudian makanan tersebut dibagi bagikan kepada para undangan termasuk anak perempuan kecil yang diusung oleh sang suami calon ayah dari jabang bayi.
A q i q a h
Upacara aqiqah biasanya dilaksanakan 1 bulan atau 40 hari usia anak yang baru dilahirkan, namun ada sebagian masyarakat yang melaksanakan aqiqah lebih awal bahkan ada yang lebih dari 40 hari bergantung kepada kemampuan orang tua si anak.
Upacara aqiqah untuk suku Gorontalo tentu berbeda dengan yang dilaksanakan pada umumnya.
Pada jaman dulu para orang tua melaksanakan upacara aqiqah itu pada 7 hari setelah anak dilahirkan, yang disertai dengan upacara naik ayunan atau yang disebut buye buye. Pada upacara ini sekaligus dilaksanakan sunat bagi anak perempuan.
Khitanan dan Beat
Meskipun kemajuan teknologi telah merambah ke suluruh pelosok Gorontalo, namun adat istiadat yang telah ada sejak jaman nenek moyang tetap terpelihara dengan baik, bebagai upacara adat masih tetap dilaksanakan, misalnya upacara Khitanan bagi anak laki-laki dan Beat bagi anak perempuan. Dalam upacara ini masih ada sebagaian masyarakat yang menggunakan alat tradisional untuk mengkhitan anak laki-laki. Namun seiring dengan kemajuan teknologi dan mengurangi resiko yang dapat berakibat fatal maka saat ini telah terjadi pergeseran dengan menggunakan alat yang lebih modern dengan menggunakan tenaga dokter.
          
Khusus upacara Beat untuk anak perempuan yang telah aqil baligh,adat tersebut masih tetap dilakukan.
Sapaan Atau Toli
Sapaan atau toli atau nama panggilan bagi seseorang adalah suatu kebudayaan masyarakat gorontalo. Tata krama ini sudah ada berabad-abad lamanya . menurut “wulito” atau cerita leluhur kebudayaan ini berkembang menjadi “pulangga “ atau gelar kepada raja jogugu,marsaoleh,dan para pejabat kerajaan / negri yang dinobatkan atau dinilai berilomato atau berkarya dalam negeri bahkan apabila wafatpun raja dan pejabat-pejabat masih di anugrahi gelar yang disebut gara’I yang juga diberikan sesuai karyanya semasa hidupnya .
Sapaan bermakna sebagai suatu penghormatan bagi seseorang ,selain dari pada itu sapaan atau toli bisa memper erat tali persaudaraan atau tali kekeluargaan dengan sapaan yang manis seseorang merasa dihargai sehingga timbul ‘ sense of belonging‘ merasa bagian keluarga atau lingkungannya.
Nabi Muhammad SAW menyapa istri-istirnya dengan nama pangilan yang manis dan halus .beliau menyapa aisyahra ‘humairah ‘ artinya si pipi yang merah , yaitu sapaan kesayangan buat istri yang cantik.
Pada zaman dahulu dalam lingkungan kerajaan-kerajaan ,sapaan-sapaan terjaga dengan sangat baik dalam lingkungan ini hamper tidak terdengar panggilan nama asli/kecil seseorang . menyapa raja dan pejabat-pejabat Ti Olangia , Ti Jogugu ,Ti Wulea ,atau sapaan ti Eyanggu . sapaan untuk ratu , permaisuri atau istri-istri pejabat Ti Mbui , Ti Boki, Putra-Putri dan cucu Bantha , Te tapulu ,Te Putiri , Te Uti , Ti Pii dan sebagainya. sebaliknya keluarga dan para putra-putri pegawai kerajaan dengan nama jabatan masing-masing sampai pangkat yang paling rendah sekalipun tak menyebut nama kecil.
Tumbilotohe
Tumbilotohe yang dalam arti bahasa gorontalo terdiri dari kata “tumbilo” berarti pasang dan kata “tohe” berarti lampu, yaitu acara menyalakan lampu atau malam pasang lampu. Tradisi ini merupakan tanda bakal berakhirnya bulan suci Ramadhan, telah memberikan inspirasi kemenangan bagi warga Gorontalo. Pelaksanaan Tumbilotohe menjelang magrib hingga pagi hari selama 3 malam terakhir sebelum menyambut kemenangan di hari Raya Idul Fitri.
Di tengah nuansa kemenangan, langit gelap karena bulan tidak menunjukkan sinarnya. Warga kemudian meyakini bahwa saat seperti itu merupakan waktu yang tepat untuk merefleksikan eksistensi diri sebagai manusia. Hal tersebut merupakan momentum paling indah untuk menyadarkan diri sebagai fitrah ciptaan Allah SWT.
Menurut sejarah kegiatan Tumbilotohe sudah berlangsung sejak abad XV sebagai penerangan diperoleh dari damar, getah pohon yang mampu menyala dalam waktu lama. Damar kemudian dibungkus dengan janur dan diletakkan di atas kayu. Seiring dengan perkembangan zaman dan berkurangnya damar, penerangan dilakukan dengan minyak kelapa (padamala) yang kemudian diganti dengan minyak tanah. Setelah menggunakan damar, minyak kelapa, kemudian minyak tanah, Tumbilotohe mengalami pergeseran.
Hampir sebagian warga mengganti penerangan dengan lampu kelap-kelip dalam berbagai warna. Akan tetapi, sebagian warga masih mempertahankan nilai tradisional, yaitu memakai lampu botol yang dipajang di depan rumah pada sebuah kerangka kayu atau bambu.
Saat malam tiba, “ritual” Tumbilotohe dimulai. Kota tampak terang benderang. Nyaris tidak ada sudut yang gelap. Keremangan malam yang diterangi cahaya lampu-lampu bot Kota Gorontalo berubah semarak karena lampu-lampu botol tidak hanya menerangi halaman rumah, tetapi juga menerangi halaman kantor, masjid. Tak terkecuali, lahan kosong petak sawah hingga lapangan sepak bola dipenuhi dengan cahaya lampu botol. Masyarakat seolah menyatu dalam perasaan religius dan solidaritas yang sama. Di lahan-lahan kosong nan luas, lampu-lampu botol itu dibentuk gambar masjid, kitab suci Al ol di depan rumah- rumah penduduk tampak mempesona
Tumbilotohe menjadi semacam magnet bagi warga pendatang, terutama warga kota tetangga Manado, Palu, dan Makassar. Banyak warga yang mengunjungi Gorontalo hanya untuk melihat Tumbilotohe. Sepanjang perjalanan di daerah Gorontalo maka kita akan menyaksikan Tumbilotohe dari berbagai ragam bentuk. “Sangat indah apabila kita berjalan pada malam hari” itulah ungkapan pada kebanyakan orang yang memanjakan ma Alikusu terdiri dari bambu kuning, dihiasi janur, pohon pisang, tebu & lampu minyak yang diletakkan di pintu masuk rumah, kantor, mesjid dan pintu gerbang perbatasan suatu daerah. Pada pintu gerbang terdapat bentuk kubah mesjid yang menjadi simbol utama alikusu. Warga menghiasi Alikusu dengan dedaunan yang didominasi janur kuning. Di atas kerangka itu digantung sejumlah buah pisang sebagai lambang kesejahteraan dan tebu lambang kemanisan, keramahan, dan kemuliaan hati menyambut Idul Fitri.
Meriam Bambu (dalam bahasa Gorontalo Bunggo)
Bunggo terbuat dari bambu pilihan yang setiap ruas dalamnya, kecuali ruas paling ujung, dilubangi. Di dekat ruas paling ujung diberi lubang kecil yang diisi minyak tanah. Lubang kecil itu sebagai tempat menyulut api hingga bisa mengeluarkan bunyi letusan, tapi dalam bermain permainan ini pemain harus berhati-hati karena dapat membuat pemain kebakaran alis dan bulu mata.
Walima
Walima dalam bahasa Arab yang artinya perayaan oleh masyarakat Gorontalo umumnya dikenal sebagai wadah yang berisi berbagai jenis kue basah atau kering yang diarak ke masjid pada setiap Maulid Nabi, bahkan di beberapa tempat di Gorontalo walima juga diisi dengan bahan makanan pokok hasil kebun, ternak dll yang disiapkan apa adanya.
 
Bagi masyarakat, Walima adalah hasil karya seni tinggi yang dipersiapkan berbulan-bulan, memerlukan kesabaran yang tinggi untuk mengerjakannya serta membutuhkan biaya yang lumayan besar.
Bagian-bagian dalam Walima:
a. Tolangga
Bamboo
Rotan
Kayu
Tolangga terbuat dari kayu yang paten dapat dipergunakan bertahun-tahun, disimpan oleh masyarakat untuk dipakai pada saat perayaan Maulid Nabi.
b. Kertas Warna
Bahan kertas warna digunakan untuk menghiasi bambu atau rotan pada Tolangga.
c. Bendera
Bendera besar sesuai keinginan pemilik walima dengan guntingan berbagai bentuk, dipasang dari ujung walima sampai ke bawah.
Bendera kecil warna-warni jumlah tidak tetap tergantung keinginan pemilik walima, diletakkan di setiap sisi pada tengah walima.
Bahan bendera terbuat dari kertas atau kain.
d. Kolombengi
Terbuat dari tepung, gula & telur, kue ini dapat disimpan berbulan-bulan dan tidak mudah rusak, inilah kue khas Walima.
e. Tusuk Kue
Terbuat dari bambu untuk tusukan kue kolombengi panjang sesuai ukuran tolangga.
f.. Plastik
Plastik bening biasa untuk melindungi kue kolombengi setelah ditusuk.
g. Lilingo
Terbuat dari daun kelapa muda dibuat bulat seperti tempat nasi, fungsinya adalah wadah tempat nasi kuning, pisang, ayam bakar/goreng, ikan laut – asap, kue basah, dll.
h. Makanan
Nasi kuning, ikan bakar, ayam bakar & pisang.
Tunuhio
Dalam bahasa Indonesia tunuhio adalah yang diikutkan atau bersamaan ini adalah sejumlah uang sesuai kemampuan pemilik walima, jumlahnya biasanya mengikuti ukuran besar kecilnya walima tetapi juga ini tidak harus mengikuti ukuran walima, uang ini diserahkan pemilik walima kepada panitia pada saat walima tiba di masjid, jumlah uang (Tunuhi) pada saat maulid di Bongo bila ditotal bisa puluhan juta dan dibagikan kepada pezikir yang datang dari luar daerah untuk mengganti transportasai dll.
Dikili
Dikili dalam bahasa Gorontalo biasanya dikenal pada saat maulid, dalam bahasa Indonesia lebih kurang artinya adalah Zikir, dalam peringatan maulid Nabi para pezikir datang hampir mewakili wilayah Gorontalo jumlahnya bisa menjadi 500 orang, biasanya masyarakat Gorontalo yang berdomisili di wilayah itu dan hobi dengan Dikili. Dikili ini dilagukan dalam irama yang sama oleh banyak orang yang dimulai oleh pemimpin Agama setelah sholat Isya dan berakhir sebelum sholat zuhur atau lebih kurang 15 jam. Irama zikir yang khas ini membuat orang terkagum-kagum dan marasakan akan kejadian maulid Nabi.
Keberadaan budaya Gorontalo dimasa sekarang
Dewasa ini kita telah menghadapi masa globalisasi yang hubungan manusianya tiada batas antar satu benua dengan banua lain. Keberadaan budaya Gorontalo dimasa sekarang ini sudah mengalami banyak perubahan yang sangat signifikan misalnya saja dalam hal upacara adat perkawinan. Dalam upacara adat perkawinan adat Gorontalo dimasa sekarang ini banyak sesi-sesi adat yang dilewati misalnya saja dalam upacara malam sebelum diadakannya akad pernikahan, banyak anak muda sekarang yang tidak lagi menggunakan tarian-tarian untuk memikat hati mempelai wanita karena diakibatkan bebrapa faktor diantaranya sebagai berikut:
· Kurangnya pengetahuan akan adat budaya daerah Gorontalo
· Kurangnya pengetahuan akan tarian adat
· Kurangnya pengetahuan pembelajaran tentang adat budaya gorontalo
· Pergaulan kaum muda mudi yang sudah tergerus oleh jaman atau berprilaku hidup modern.
Faktor-faktor tersebut diatas yang membuat memudarnya kebudayaan Gorontalo.
Oleh karena itu kita kaum muda harus bisa mempertahankan budaya Gorontalo agar tetap lestari, karena budaya itulah yang menjadi warisan leluhur nenek moyang suku Gorontalo.

Tumbilotohe




Tumbilotohe dalam bahasa Gorontalo terdiri dua  suku kata, yaitu tumbilo berarti pasang, dan toheberarti  lampu. Jadi, Tumbilotohe berarti acara pasang lampu. Menurut sejarah, Tumbilotohe merupakan tradisi masyarakat Gorontalo masa lampau yang sudah berlangsung sejak abad ke-15 M. Tradisi ini dilaksanakan pada 3 malam terakhir menjelang hari  Raya Idul Fitri, yaitu pada tanggal 27 hingga 30 Ramadhan, mulai magrib hingga  pagi hari.
Di masa lampau, pelaksanaan Tumbilotohe dimaksudkan untuk memudahkan umat Islam dalam memberikan zakat fitrah pada  malam hari. Pada masa itu, lampu penerangan masih terbuat dari damar dan getah  pohon yang mampu menyala dalam waktu lama. Oleh karena semakin berkurangnya damar, maka bahan lampu penerangan diganti dengan minyak kelapa (padalama) dan kemudian diganti dengan minyak tanah.
Seiring dengan perkembangan zaman, banyak warga Gorontalo mengganti lampu penerangannya dengan lampu kelap-kelip dalam berbagai warna. Namun, sebagian warga masih tetap menggunakan lampu minyak tanah sebagai penerangan. Lampu-lampu minyak tersebut digantung pada sebuah  kerangka kayu yang dihiasi dengan janur kuning. Di atas kerangka itu juga digantung  buah pisang sebagai lambang kesejahteraan, dan tebu sebagai lambang kemanisan,  keramahan, serta kemuliaan menyambut hari raya Idul Fitri. Tradisi ini menjadi  daya tarik tersendiri bagi warga pendatang, terutama warga kota  tetangga, seperti Manado, Palu, dan Makassar. Mereka sengaja berkunjung ke Gorontalo untuk  menyaksikan tradisi Tumbilotohe.
 
Keistimewaan
Pada saat ritual Tumbilotohe dilaksanakan, Kota Gorontalo berubah menjadi semarak, karena lampu-lampu  penerangan dari berbagai jenis dan bentuk tidak hanya menerangi halaman rumah warga, tetapi juga menerangi halaman kantor, masjid, dan lapangan sepak bola.  Bahkan, petakan sawah dan lahan-lahan kosong yang luas pun dipenuhi dengan  lampu botol dalam berbagai bentuk, seperti gambar masjid, kitab suci Alquran,  dan tulisan kaligrafi yang sangat indah dan mempesona. Selain itu, hampir semua alikusu atau kerangka pintu gerbang, baik rumah, masjid, kantor, maupun perbatasan  suatu daerah, juga dihiasi dengan janur, pohon pisang, tebu, dan lampu-lampu  minyak.

Ritual yang diselenggarakan selama  tiga malam tersebut menjadi semakin ramai dan semarak dengan adanya atraksi bunggo (meriam bambu) yang dimainkan oleh anak-anak muda Kota Gorontalo. Para pemain bunggo tersebut saling balas dan saling adu kerasnya bunyi. Menjelang sahur, mereka mengarahkan bunggo tersebut ke kampung-kampung untuk membangunkan warga yang masih terlelap tidur agar bangun untuk makan sahur. Dengan suasana demikian, para pengunjung dapat merasakan nuansa religiusitas dan solidaritas bersama masyarakat setempat.